Gereja Katolik St. Aloysius Gonzaga Mojosongo - Surakarta

Tanggal 1 Juli 2018 menjadi hari terakhir Rm. Yohanes Kristiyanta mendampingi Paroki Administratif Santo Aloysius Mojosongo. Rm. Yohanes Kristiyanta mendapat tugas perutusan baru di Paroki Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga Dalem, Klaten. Sebagai gantinya, Rm. Agustinus Nunung Wuryantoko diutus menjadi pastor pendamping di Mojosongo. Dalam masa pendampingan yang terbilang singkat (hanya 1 tahun), Paroki Administratif Santo Aloysius Mojosongo telah berhasil menorehkan catatan penting dalam sejarahnya, yaitu untuk pertama kalinya melayani penerimaan Sakramen Penguatan kepada 173 krismawan dan krismawati oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang. Penerimaan Sakramen Krisma tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Oktober 2018.

Beberapa bulan selanjutnya, pada hari Jumat, 24 Mei 2019, paroki menerima kunjungan dari Tim Visitasi Keuskupan Agung Semarang untuk memastikan peningkatan status gerejawi dari paroki administratif menjadi paroki mandiri penuh. Hasil dari visitasi tersebut adalah surat keputusan dari uskup agung Semarang bernomor 0787/B/I/b-136 tertanggal 1 Juli 2019, yang menyatakan bahwa Paroki Administratif Santo Aloysius Mojosongo, berdasarkan pertimbangan mendalam dan hasil kunjungan dari tim Keuskupan Agung Semarang, ditetapkan untuk naik statusnya menjadi paroki mandiri penuh, dan berhak menyandang nama Paroki Santo Aloysius Mojosongo. Surat keputusan tersebut dibacakan dalam perayaan ekaristi khusus dalam rangka syukur atas penetapan status baru Paroki Santo Aloysius Mojosongo. Romo Agustinus Nunung Wuryantoko selanjutnya menjalani perutusan sebagai pastor kepala Paroki Santo Ignatius Loyola, Danan, Wonogiri mulai dari tanggal 19 Juni 2019. Pada tanggal tersebut juga dilaksanakan timbang terima dari Serikat Jesus Provinsialat Indonesia kepada Keuskupan Agung Semarang. Sebagai gantinya, maka Keuskupan Agung Semarang menugaskan Rm. Maternus Minarta, yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke, sebagai pastor paroki pertama semenjak Paroki Santo Aloysius Mojosongo resmi dikukuhkan sebagai paroki penuh mandiri.

Mengutip dari blog Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke, Rm. Minarta merupakan sosok imam yang mempunyai jam terbang dan pengalaman yang tidak sedikit. Lahir di Kulonprogo pada tanggal 25 September 1962, Rm. Minarta merupakan satu dari lima bersaudara putra dan putri pasangan Yusup Ngadirun Rejasemita dan Yosepha Srinem. Beliau menerima tahbisan diakon di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan pada tanggal 24 Januari 1991, dan ditahbiskan sebagai imam di tempat yang sama pada tanggal 14 Agustus 1991 dari tangan Mgr. Julius Darmaatmaja, SJ. Selama 2 tahun pertama setelah ditahbiskan (tahun 1991-1993), Rm. Minarta berkarya sebagai pastor bantu di Paroki Santo Yusup Medari, Sleman, sebelum akhirnya ditugaskan dari tahun 1993-2000 di Timor Leste. Di sana, beliau bertugas di Paroki Immaculada Conceição de Ermera (Santa Maria Dikandung Tak Bernoda, Ermera) tahun 1993-1998, dan sebagai pastor Paroki Sancta Maria Fatima (bahasa Portugis: Nossa Senhora de Fátima) Turiscai pada tahun 1998-2000. Tahun-tahun tersebut dilalui dengan perjuangan merintis pendidikan tingkat SD di Ermera atas pesan dari Mgr. Carlos Filipe, hingga meredam gejolak yang terjadi akibat konflik antara kelompok pro integrasi dengan kelompok pro kemerdekaan Timor Leste di Turiscai. Sebelas tahun setelahnya dijalani dengan misi perutusan di Keuskupan Agung Semarang, yaitu sebagai pastor bantu di Paroki S.P. Maria Regina Purbowardayan tahun 2000-2001, sebagai pastor Paroki Santa Maria Kartasura tahun 2001-2003, pastor Paroki Santo Yakobus, Bantul tahun 2003-2010, pastor Paroki Mater Dei Lampersari, Semarang bulan Agustus-September 2010, menjalani pengolahan hidup pribadi pada bulan Oktober 2010-Mei 2011 di Wisma Puren, hingga akhirnya pada bulan Juni 2011 hingga Juli 2019, ditugaskan di Keuskupan Agung Merauke, Papua Selatan.

Penugasan pertama Rm. Minarta di sana adalah sebagai pastor Paroki Santo Antonius Okaba, yang berjarak 130 kilometer di sebelah barat Merauke. Gedung gereja berjarak sangat dekat dengan bibir pantai, kira-kira sekitar 100 meter, dan setiap tiga bulan sekali, bisa berkurang antara 10-15 meter akibat pasang air laut. Untuk menanggulangi dampak abrasi air laut, Rm. Minarta pernah mengusahakan dengan kegiatan mengisi 50.000 karung dengan pasir atau lumpur untuk membendung luapan air laut, meskipun enam bulan kemudian tanggul karung itu hilang disapu ombak. Tanggul permanen akhirnya dibangun setelah turun bantuan dana dari pemerintah pusat sebesar Rp12 miliar pada tahun 2016. Tanggal 12 Juli 2014, Rm. Minarta menerima penugasan dari (saat itu) Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicolaus Adi Seputra, MSC, untuk menjabat sebagai rektor Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke. Seminari menengah yang dulunya bernama Seminari Hati Kudus Yesus ini, didirikan oleh Mgr. Herman Tillemans, MSC pada tahun 1954, kemudian berganti nama menjadi Seminari Menengah Pastor Bonus di tahun 1967, saat rektornya dijabat oleh R.P. Jacobus Duidenvoorde MSC. Sempat ditutup sejak tahun 1971, seminari menengah tersebut dibuka kembali pada tahun 2006 atas hasil Musyawarah Agung Umat Katolik Keuskupan Agung Merauke yang diadakan di tahun 2005. Rm. Minarta adalah pastor keempat yang menjabat sebagai rektor sejak pembukaan kembali Seminari Menengah Pastor Bonus.

Dalam salah satu perayaan ekaristi yang ia pimpin, Rm. Minarta pernah bergurau bahwa ia mengira yang dimaksud daerah Mojosongo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali, padahal yang sebenarnya adalah paroki di sebelah utara Surakarta yang adalah pemekaran dari Paroki S.P. Maria Regina Purbowardayan. Rm. Minarta sendiri tidak asing dengan Paroki Mojosongo, karena pada saat masih menjadi wilayah dan mengemban tugas sebagai pastor bantu di Paroki Purbowardayan, beliau kerap berkunjung ke Mojosongo.

Kegembiraan umat Mojosongo dalam menghidupi status barunya sebagai paroki mandiri penuh, ternyata harus menghadapi ujian serius di awal tahun 2020.